Showing posts with label Gempa Bumi. Show all posts
Showing posts with label Gempa Bumi. Show all posts

13 October 2011

Gempa Bali 6,8 SR tidak Berpotensi Tsunami

Badan Penanggulangan Bencana Nasional atau BNPB menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,8 SR yang berpusat pada 143 kilometer Barat Daya Nusa Dua Bali tidak berpotensi tsunami.

"Gempa dengan kedalaman 10 kilometer tersebut tidak berpotensi tsunami," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Sutopo menjelaskan pada saat ini BNPB terus melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemerintah Daerah setempat terkait gempa bumi tersebut.






BNPB juga belum merilis data kerusakan dan kemungkinan adanya korban jiwa dalam kejadian itu. "Kami belum mendapatkan laporan lebih lanjut, setiap perkembangannya akan kami sampaikan kepada masyarakat," katanya.

Sebagaimana diberitakan, gempa berkekuatan 6,8 Skala Richter (SR) mengguncang Nusa Dua, Bali, Kamis, (13/10/2011) pukul 10.16 WIB.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan gempa berada pada lokasi 9,89 LS, 114.53 BT (143 km Barat Daya) Nusa Dua Bali. Gempa ini berkedalaman 10 km. [ant]


Sementara, RS Sanglah Terima 50 Korban
Akibat gempa, sekitar 50 warga dilarikan ke rumah sakit Sanglah, Denpasar, Bali. Mereka luka-luka. "Umumnya kena benda keras. Badannya luka, kepala berdarah-darah," ujar Humas RS Sanglah, Danti, saat dihubungi VIVAnews.com, Kamis 13 Oktober 2011.
Sebagian besar korban adalah siswa SMK 2 yang berada di Jalan Pendidikan, Denpasar. Mereka tertimpa atap dan benda keras lain. Dibawa para guru ke rumah sakit Sanglah. "Mereka diantar oleh guru," imbuhnya.

Selain para siswa, banyak juga korban masyarakat umum. Namun, Danti belum bisa memberikan keterangan lebih jelas mengenai data lengkap para korban.

Gempa mengguncang Bali pada pukul 10.16 WIB. Versi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kekuatan gempa sebesar 6,8 skala Richter. Sementara Badan Geologi AS (USGS) menyebut, gempa di Pulau Dewata berkekuatan 6,0 SR.

Gempa diketahui berada di lokasi 9.89 Lintang Selatan dan 114.53 Bujur Timur. Pusat gempa berada pada jarak 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua, Bali.

sumber: http://nasional.inilah.com/read/detail/1784772/gempa-bali-tidak-berpotensi-tsunami

dan

http://nasional.vivanews.com/news/read/255181-sementara--rs-sanglah-terima-50-korban-gempa

foto: vivanews Baca selengkapnya ..

04 October 2011

Marapi Meletus, lalu Gempa Bumi


Letusan 4 Kali, Pusat Gempa dekat Padang

DUA bencana beruntun terjadi di Sumbar, Minggu (2/10). Pagi sekitar pukul 08.05, Gunung Marapi kembali meletus. Bahkan, catatan Pos Pengamatan Gunung Api Marapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terjadi empat kali letusan dengan ketinggian abu vulkanik hingga 900 meter. Namun, statusnya masih dipertahankan di level waspada yang ditetapkan sejak letusan 3 Agustus 2011.

”Hari ini teramati sudah terjadi 4 kali letusan, salah satunya mencapai ketinggian 900 meter lebih,” ungkap Kepala Pos Pengamatan Kegunungapian Marapi di Bukittinggi, Warseno, kepada Padang Ekspres, Minggu (2/10).

Kendati terjadi letusan dari kawah, tapi tekanannya tidak seperti letusan utama, 3 Agustus lalu yang mencapai ketinggian 1.000 meter.

”Jumlah letusan setiap hari fluktuatif, rata-rata 10 kali letusan. Baik teramati secara langsung (visual) maupun yang tercatat seismograf,” imbuhnya. Dia juga mengingatkan masyarakat sekitar Gunung Marapi tidak mendekati gunung dalam radius 3 kilometer. Masyarakat pun diminta tidak panik, selalu berkoordinasi dengan instansi pemerintah setempat terutama pos pengamatan gunung api.

Ke depan, tambah Warseno, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi, termasuk peningkatan status Marapi. ”Kita lihat aja datanya, kalau memang mendukung untuk peningkatan aktivitas, nanti kita naikkan statusnya dan pasti kita informasikan ke masyarakat,” tukas Warseno.

Pantauan Padang Ekspres, warga sekitar kaki Marapi tidak cemas. Warga lebih yakin dengan tanda-tanda alam di sekitar gunung sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat setempat. Umumnya, mereka tetap beraktivitas seperti biasa, termasuk bertani di lereng Marapi.

Indra, 40, warga Nagari Bukit Batabuah, Kecamatan Canduang mengaku sudah terbiasa dengan letusan disertai semburan abu vulkanik. ”Menurut cerita orang-orangtua kami, jika letusan Marapi sudah membahayakan, hewan gunung, seperti monyet, babi dan lainnya turun ke perkampungan warga. Jika masih sebatas batuk-batuk dengan semburan abu vulkanik, itu sudah biasa terjadi,” terangnya.

Dekat Gempa 2009
Jika pagi Marapi meletus, siang sekitar pukul 13.02, gempa mengguncang. Gempa berkekuatan 4,3 SR itu berpusat di 77 km barat laut Padang dengan kedalaman 10 km, itu dirasakan sebagian warga Padang dan Pariaman.

Kendati berskala kecil, tetap saja masyarakat berhamburan ke luar rumah. Rahmat, 20, warga Aurduri, Padang, terperanjat begitu merasakan getaran gempa di warnet. ”Saya kira, ada yang menggoyang dinding warnet ini, rupanya setelah lihat berita di internet, memang ada gempa,” ujarnya.

Mita, 32, warga Desa Rawang, Pariaman, langsung ke luar rumah begitu gempa. ”Mungkin karena saya lagi duduk, getarannya sangat terasa. Sedangkan kakak saya yang lagi memasak, mengaku tidak merasakan gempa,” ujarnya.

Acun, 42, pedagang emas di kompleks pasar Pariaman, juga tidak merasakan gempa. Hal serupa juga tampak di Pantai Gandoriah, nyaris tidak ada pengunjung merasakan gempa. ”Saya justru tahu gempa dari teman yang kebetulan menelepon dari Padang. Saya sendiri tidak merasakan, mungkin karena sedang asyik bermain ombak,” ujar Esti, 36, warga Tabing, Padang yang sedang berlibur.

Kepala BPBD Kota Pariaman, Asrizal mengimbau warganya tetap waspada. ”Yang penting, siapkan makanan, pakaian dan surat-surat penting dalam satu tas untuk antisipasi,” imbaunya.

Marapi Waspada Plus
Manajer Pusdalops PB Sumbar Ade Edwar menyebutkan, pusat gempa yang mengguncang siang kemarin berada dekat pusat gempa 7,9 SR pada 30 September 2009 silam. Sedangkan Gunung Marapi, diakui Ade aktivitasnya terus meningkat. Jika ditarik garis lurus, posisi gempa kemarin berhadapan langsung dengan gunung api itu. ”Tapi belum ada penelitian yang membuktikan, apakah ada patahan gempa kemarin yang terkait dengan gunung api tersebut,” katanya.

Tapi, pekan lalu, dalam pertemuan dengan para pakar gempa dari dalam dan luar negeri di Istana Negara yang juga dihadiri Sekretaris Kabinet Dipo Alam dan Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi Surono, Ade sempat mempertanyakan seputar peningkatan aktivitas Marapi. ”Memang dikatakan Marapi statusnya waspada, tapi sudah masuk waspada plus, mendekati siaga. Karena hampir setiap hari, terjadi semburan asap dan debu vulkanik yang ke luar pun sangat tinggi. Maka, kami terus memantaunya 24 jam,” jelas Ade Edward.

Untuk itu, diperlukan berbagai persiapan guna menghadapi situasi tak terduga seperti jika Marapi tiba-tiba meletus, mengeluarkan awan panas dan magma. ”Maka, dari sekarang diperlukan persiapan awal seperti sosialisasi dan menyiapkan rambu titik-titik evakuasi. Semua itu butuh dana tak terduga, karena dana sekarang digunakan untuk program yang telah terprogram,” ujarnya. (nia/bis/fd/esg)



source: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=13707 Baca selengkapnya ..

01 October 2011

Anas Peringati Dua Tahun Gempa di Padang



Jadikan Spirit Membangun Sumatera Barat
 
Dahsyatnya gempa 7,9 SR yang mengguncang Sumbar dua tahun silam seketika menyeruak. Rona kesedihan memancar pada saat detik-detik peringatan dua tahun gempa Sumbar di Padang dan Padangpariaman, dua daerah terparah diguncang gempa pada 30 September 2009.

Suasana mengharu biru tatkala Qurata Ayuna, 15, dengan kursi roda menghadiri peringatan dua tahun gempa di Monumen Gempa, Jalan Gereja, Taman Melati, Jumat (30/9). Siswi SMPN 8 Padang itu melempar senyum ketika Wali Kota Padang Fauzi Bahar datang menghampirinya. Dia tampak ingin menunjukkan pada dunia bahwa orang Sumbar bermental baja meski babak belur dihoyak gempa dua tahun silam.

Ketegaran Qurata mengundang haru warga Padang yang menghadiri detik-detik peringatan gempa 30 September, pukul 17.16 WIB. Melihat ketegaran Qurata, membuat warga Padang yang hadir dalam peringatan itu, tak kuasa menahan linangan air mata.

Qurata adalah salah satu siswa yang tertimbun di reruntuhan gedung lembaga bimbingan belajar Gama, Jalan Proklamasi, Padang. Gadis belia ini selamat, tapi kakinya terpaksa diamputasi sehingga harus memakai kursi roda.
Baca selengkapnya ..

20 May 2011

Wawancara Khusus soal Prediksi Gempa Jakarta 8,7 SR



Andi Arief: Presiden Instruksikan Kaji Lagi

Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Andi Arief menyatakan adanya potensi gempa 8,7 SR di sekitar Pulau Jawa. Prediksi itu telah disampaikan pada Presiden SBY. SBY pun meminta agar prediksi itu dikaji lagi.

"Instruksi dari beliau adalah dikaji lagi, dihitung ulang. Ditakutkan nanti kalau dia (gempa) berkurang, ya syukur. Tapi kalau lebih? Beberapa peneliti kita takut dengan adanya beberapa jenis katastropik seperti Madrid 5,1 SR yang pernah terjadi. Kemudian juga di Burma itu juga purba. Kita mengkhawatirkan itu akan lebih," kata Andi.

Berikut petikan wawancara lengkap wartawan dengan Andi di kantornya, Jl Veteran, Jakarta, Rabu (18/5/2011):

Bisa dijelaskan apa maksud pernyataan Anda soal potensi gempa 8,7 SR?

Selama 10 bulan ini Kantor Staf Khusus bekerja sama dengan para ahli peneliti itu mencoba untuk merumuskan konsep mitigasi. Kita ada beberapa kali pertemuan di Istana, mendatangkan tim-tim dari Harvard kemudian pertemuan ahli gempa Indonesia ada tiga kali, Pak Surono, Pak Danny Hilman, Ibu Dwi Korita di Yogya, dan banyak ahli-ahli dari BMKG juga kita kumpulkan, mencari bagaimana sebetulnya konsep mitigasi. Mitigasi adalah pengurangan risiko bencana.

Kita latah bicara mitigasi, sebetulnya ada satu faktor yang dilupakan yaitu kalau kita bicara mitigasi kita harus tahu dulu apa yang mau dimitigasi. Misalkan Jakarta ini apa yang harus kita mitigasi. Banyak orang bicara mitigasi, tapi ibarat perang, belum tahu musuhnya mau memitigasi ya tidak ketemu.

Karena itu kita mengambil satu langkah seperti Jepang, apa itu, mencari sumber-sumber bencana katastropik purba. Katastropik purba ini adalah bentuk bencana yang sangat potensi dan pernah terjadi, dia mengubur peradaban. Contohnya Aceh 2004, itu adalah bencana katastropik. Kenapa katastropik, dia korbannya 250 sampai 300 ribu jiwa.

Artinya apa? 3 Per empat peradaban Aceh itu hilang. Itu salah siapa, itu salah kita semua. Kita tidak pernah mau mengenal sumber-sumber gempa, padahal satu tahun setelah 2004, Tim LIPI sama EOS dan tim ahli kita, sudah meneliti eskapasi geologi di bawah laut dekat Aceh. Ditemukan kota kecil dan bangunan kota yang setelah dieskapasi ternyata 1.400 tahun yang lalu pernah terjadi gempa besar. Artinya apa, bahwa ada siklus dalam geologi siklus, kalau sebuah daerah pernah terjadi gempa, apalagi yang besar, dia pasti mengulang. Andai eskapasi sekarang, Aceh 2004 itu tidak sebanyak itu.

Apakah Anda tidak khawatir pernyataan itu akan membuat panik masyarakat?

Saya tidak khawatir dengan orang-orang yang panik. Saya bersyukur ada yang panik, karena dia masih aware sama nasibnya. Kalau nggak ada yang panik saya justru heran. Kepanikan saya anggap positif, karena pelan-pelan edukasi bahwa kita harus mempercayai penelitian scientific.

Dan hari ini Fauzi Bowo mengeluarkan statement, kita tanggapi dengan bijakasana dan dia mempercayai hasil revisi tim gempa, sudah mempersiapkan mikrozonasi, akan membangun infrastruktur-infrastruktur, beberapa gedung tahan gempa. Saya melihat ada perkembangan bagus, Pak Fauzi Bowo rasional, ini bukan kampanye gubernur, tapi satu sikap yang bisa meniru minimal Gubernur Sumbar.

Sumbar mempercayai itu sekarang pindah ibukota, Ibukota Padang, 15 kilometer menjauhi pantai. Di sana latihan terus, kemudian membangun shelter-shelter mini, kemudian segala upaya dilakukan di Kota Padang.

Artinya alhamdulilah saya, saya senang, karena sudah dua gubernur yang mempercayai pendekatan scientific, satu Pak Fauzi Bowo, satu Pak Irwan Prayitno. Ini satu awal yang bagus bagi kita.

Kita tertinggal jauh, yang namanya Jepang membangun pusat riset 1925, 1924 itu Tokyo diguncang gempa, meninggal 150 ribu orang. Sadar akan itu dia buat pusat riset 1925. Kita baru buat 2011. Kenapa purba yang kita cari agar lebih memudahkan. Tapi tidak harus selalu dipercaya, purba itu, harus diteliti lagi. Ada juga yang bisa membantu kita.

Kita berhasil menemukan beberapa tempat yang menunjukan bencana itu ada. Batu Jawa di Karawang. Batu itu adalah kompleks candi. Di sana kita temukan berdasarkan batuan geologi ada 5 km persegi. Setelah kita geolistrik, kemungkinan besar bisa lebih dari itu.

Ada satu kota terbenam, di bawahnya candi, ada candi yang lebih besar dari candi Borobudur, ada sekitar 1 hektar. Di situlah bukti bahwa ada peradaban tertimbun. Kita perkirakan terkubur ada karena banjir, tapi ada juga bukti bahwa dia terkubur berdasarkan letusan 416. Ada juga yang karena 1883 itu.

Sekali lagi yang meneliti adalah individu-individu, awalnya. Bukan inisiatif dari pemerintah. Baru sekarang ada S2 kegempaan artinya pemerintah sudah bisa kita dorong untuk membentuk lembaga penelitian dan sekolah khusus untuk kegempaan. Kita agak terlambat.

Bagaimana dengan pandangan negatif masyarakat tentang prediksi Anda?

Lembaga-lembaga BNPB, BMKG kita selalu bekerjasama dan mendorong agar mereka juga memfokuskan pada penelitian. Jadi saya mengatakan bahwa hasil penelitian hanya bisa dibantahkan oleh hasil penelitian yang lain. Tidak boleh oleh opini.

Dan apa yang saya sampaikan ini adalah hasil penelitian bekerjasama dengan kita. Yang bisa mematahkan ini adalah hasil penelitian, kalau ada penelitian bisa mengatakan itu gugur, bisa. Selama tidak ada, saya kira kita harus mempercayainya dan ini kenyataan. Saya berharap apa namanya lebih baik kita ambil hikmahnya untuk persiapan mitigasi karena di Jakarta.

Amerika, Jepang sudah karena memprediksi gempa-gempa besar, beberapa dokumen-dokumen penting sudah di simpan di tempat-tempat emergency plan namanya. Kemudian Taiwan pernah gempa 2006 sehingga kita tidak bisa pakai Yahoo selama 20 hari. Kalau gedung cyber, kalau rubuh bagaimana, itu kan protocol internet Indonesia di luar Telkom.

Mulai harus diperiksa jembatan layang, kemudian perbankan, instalasi militer. Artinya bahwa kita tidak perlu takut kita hadapi. Kalau memang gedung harus diperbaiki diperbaiki kemudian juga gedung-gedung internet mesti diperiksa kegempaan. Tidak semua Jakarta akan hancur tidak. Apakah tsunami akan 10 meter, belum tentu. Nanti kita bersama Ristek dan yang lain sedang membuat simulasi seandainya terjadi 8,7 SR dan 8,4 SR.

Apakah hasil ini sudah dilaporkan ke Presiden SBY? Ada instruksi khusus?

Instruksi dari beliau adalah dikaji lagi, dihitung ulang. Ditakutkan nanti kalau dia berkurang, syukur. Tapi kalau lebih. Beberapa peneliti kita takut dengan adanya beberapa jenis katastropik seperti Madrid 5,1 SR pernah terjadi. Kemudian juga di Burma itu juga purba. Kita mengkhawatirkan itu akan lebih.

Ada pesan supaya masyarakat tidak panik?

Saya kira sekarang ini zaman keterbukaan, orang bisa lihat lewat internet, bisa lihat mana saja dan tidak boleh ada yang begini tidak boleh ditutupi. Dan ini penelitian pribadi lho, yang disampaikan kepada kita dan mau bekerjasama dengan kita.

Harus disampaikan kepada publik, karena ibarat perang, bukan hanya TNI/Polri, tapi masyarakat juga tahu agar bersama sama menyiapkan diri. Kalau kita tidak lakukan koordinasi justru investor akan lari. Tapi kalau pemerintah bersungguh-sungguh, investor tidak akan lari dan bahkan saya yakin perusahaan di sini menyambut baik.

Gempa Aceh pernah terjadi sebelumnya. Di Jakarta apakah ada juga sebelumnya?

Saya dalam beberapa kesempatan tidak pernah menyebut Jakarta akan gempa, tapi Jakarta dipengaruhi daerah sekitar. Walaupun ada tahun 1699 tahun 1752, tahun 1722, tahun 1757, itu ada beberapa dokumen menyatakan Jakarta pernah gempa.

Ada gedung wayang gedung apa. Saya tidak berani mengatakan itu karena belum diteliti. Saya baru akan katakan kalau itu sudah diteliti. Tiga tempat yang baru diteliti Siberut, Selat Sunda dan Sesar Lebak.

Apapun risikonya akan saya tempuh karena sudah diteliti. Kalau Jakarta sumber gempa, banyak yang bilang itu, tapi saya hanya bisa bilang bahwa dalam sejarah banyak catatannya tapi apakah betul sumber gempa di Jakarta sendiri, saya belum bisa mengatakan.

Jadi imbasnya akan ke Jakarta?

Itu tadi, seperti Meksiko hancur. Meksiko 285 gedung dulu. Ya Meksiko, Meksiko 8,1 lho SR nya. Artinya cuma lebih jauh. Kalau ini 379 km.

Kalau terjadi di Selat Sunda apa sampai Jakarta?

Tidak sampai 150 km tidak sampai 200 km ya silakan dihitung. Struktur tanahnya sama. Struktur tanah labil, apalagi Jakarta Utara kan, itu bekas reklamasi. Dan sebetulnya, gampang-gampangan saja. Kalau 5,1 SR goyang, masa 8 koma tidak goyang.

Jadi kapan prediksinya gempa ini?

Nggak bisa.

Sekrusial apa sampai harus diumumkan prediksi ini?

Setiap yang sudah penelitian sahih harus diumumkan. Betul.

Tindak lanjut dari penelitian ini?

Itu sudah tanggungjawab pemerintah pusat, tanggung jawab pemerintah daerah, tanggung jawab kita semua kan ada BNPB, DPR juga. Saya ulangi satu kesulitan BNPB dia lebih banyak disetujui pascabencana.

DPR timbang ribut soal gedung nggak karuan, lebih baik coba pikirkan bersama soal kegempaan. Semua gunung yang meletus sekarang yang di luar kebiasaan, Sinabung, Bromo, Merapi, kemungkinan besar Kelud, dan kegempaan juga kegempaan-kegempaan di luar kebiasaan.

Jadi sudah layaknya DPR duduk bersama pemerintah untuk bicara soal ini, potensi yang besar. Saya bukan menikmati ada bukti Candi Jiwa di Karawang. Silakan anda periksa sendiri kenapa Candi Jiwa terkubur, hilang. Saya tidak ingin mengatakan. Saya cuma takut kehilangan peradaban. Saya tidak ingin bangsa kita jadi bangsa bodoh karena tidak mengerti. Menurut saya kejadian di Aceh kita bodoh, kita kecolongan.

Kalau tidak bisa diprediksi kenapa dipublikasikan?

Terlambat, harusnya lebih cepat. Sudah 10 bulan. Sebetulnya sudah beberapa kali sudah saya kemukakan ke publik juga. Saya masih bingung orang kok bilang pengalihan isu. Masa nasib orang kita alihkan isu.

Kepanikan di masyarakat apa jadi sinyal positif?

Sinyal positif artinya masyarakat aware, peduli terhadap nasib. Dan yang bisa menyatakan bahwa ini salah ada penelitian lagi. Dan ini makanya saya menghindar untuk menjadikan semacam talk show.

Ilmu tentang kebumian ini, orang yang tahu sedikit. Sekarang sudah ada USG untuk orang hamil. Tapi nggak bisa sampai ke dalamnya. Itu kenapa katastropik purba, itu untuk mengejar ketinggalan.

Dulu Bandung semua danau. Kita sedang coba untuk lihat janganjangan, zaman pra sejarah ada di Indonesia. Kan sudah ditemukan homo mojokensis. Ada beberapa bukti yang belum bisa kita ekspos zaman pra sejarah ada di Jawa Barat ada.

Tujuan mengumumkan soal prediksi ini apa?

Memberi peringatan pada publik, bahwa sebenarnya sudah berkali-kali. Cuma baru kemarin. Contohnya Padang, saya tanggal 13 oktober ke Padang bersama Pak Prayitno yang merupakan gubernurnya, paparan depan pemda. Wartawan menulis, saya dimaki maki.

Saya laporkan ke Presiden di pesawat. Pemdanya kemudian sekarang mendengar pindah ibukota, ada perda tentang tata ruang, kemudian ada perda tentang pembangunan shelter mini, kita gagas pembangunan kebun binatang. Ini saya nggak main-main.

Karena wartawan latar belakang politik. Saya betul-betul serius, karena ini ilmu yang baru dan saya banyak belajar, saya berkomunikasi dengan banyak ahli gempa bumi di Indonesia, misalkan dengan Dr Robert di Amerika, juga berkomunikasi dengan salah satu yang agak intensifnya, saya berkomunikasi dengan Dr San.(mad/vit)

sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/05/18/182604/1641927/158/andi-arief-presiden-instruksikan-kaji-lagi-prediksi-gempa-87-sr?nd991107158

DbClix

Baca selengkapnya ..

16 April 2011

Empat Fakta Gempa Bumi

Gempa sejarah dapat dilacak kembali ke 1177 SM Ada beberapa fakta Gempa yang menjalankan dingin di tulang belakang. Kerusakan Gempa bervariasi sesuai dengan kondisi. Gempa prediksi tidak terlalu diandalkan.

Rilis tiba-tiba energi dalam kerak bumi menyebabkan gelombang seismik dan menghasilkan gempa bumi. Hal ini disebabkan karena pecahnya kesalahan geologi, tanah longsor, aktivitas gunung berapi, ledakan tambang dan percobaan nuklir. Dengan demikian, fenomena alam atau peristiwa yang disebabkan manusia menciptakan gelombang seismik.

Gempa fakta
Daerah di bawah permukaan bumi di mana pecahnya dimulai kesalahan disebut sebagai 'hiposenter'. Titik tepat di atas hiposenter pada permukaan bumi disebut sebagai 'pusat'. Nilai yang dihitung dari ukuran gempa disebut sebagai 'besar'. Ukuran akibat goncangan gempa ini disebut sebagai 'intensitas'. Gempa bumi memang terjadi pada iklim dingin, panas atau hujan dan begitu, konsep 'cuaca gempa' belum ditetapkan. Sebagian besar gempa bumi telah direkam pada kedalaman kurang dari 80 km yaitu 50 mil di bawah permukaan bumi.

Gempa bumi terdalam telah terjadi di batas lempeng di mana kerak bumi adalah subduksi ke dalam mantel. Ini terjadi 750 km di bawah permukaan. Sebagian besar gempa bumi terjadi di sepanjang batas lempeng. Sebagai contoh, batas antara lempeng Pasifik dan lempeng Utara Amerika atau lempeng Pasifik besar. Seperti gelombang gempa memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz, ini tidak dapat dideteksi oleh manusia. Dunia dikenai 500.000 per tahun gempa bumi terdeteksi. Dari jumlah tersebut, 100.000 bisa dirasakan, sementara 100 menyebabkan kerusakan yang sebenarnya. Gempa bumi yang tercatat terbesar di dunia terjadi di Chile pada 22 Mei 1960. Besarnya ini adalah 9,5 (Mw). Di Amerika Serikat, mencatat gempa terbesar terjadi di Prince William Sound, Alaska pada tanggal 28 Maret 1964. Besarnya ini adalah 9.2. Gempa bumi paling mematikan di dunia hit Cina tengah pada tahun 1556. Sekitar, 830.000 orang tewas. Gempa mematikan lainnya melanda Tangshan, Cina pada tahun 1976. Sekitar, 250.000 orang tewas.

Kerusakan akibat gempa bumi
Efek dari gempa bumi yang paling menonjol dalam suatu daerah yang luas di dekat pusat gempa. Kesalahan yang mencapai permukaan menyebabkan permukaan tanah retak. Perpindahan vertikal dan horizontal beberapa meter biasa. Microearthquakes memiliki gerakan periodik disebut creep sedikit kesalahan. Sifat tanah memutuskan kisaran getaran gempa dan kerusakan akibat suatu daerah.

Di permukaan material yang tidak dikonsolidasi seperti deposito sungai atau buruk mengisi dipadatkan, getaran memiliki lebih amplitudo dan bertahan lebih lama. Area batuan dasar yang kurang rentan. Struktur di daerah perkotaan yang berpenduduk padat tidak tahan luar biasa gemetar dan harus menderita kerusakan besar. gelombang L dapat menimbulkan getaran merusak bangunan dan struktur lainnya dan hal ini dapat menyebabkan kebakaran yang tidak terkendali.

Gempa sejarah
Di Cina, gempa bumi telah dicatat di 1177 SM Di Eropa, 580 SM adalah tahun ketika gempa terasa. Di Amerika Utara, New Madrid, Missouri dilanda gempa bumi besar di 1811-1812. Telah menduga bahwa ini diukur 8 pada skala Richter. Sebuah gempa yang sangat menghancurkan terjadi di Amerika Serikat di San Francisco pada tahun 1906. Lebih dari 700 orang tewas dalam hal ini. Pada tahun 1964, gempa bumi yang melanda Alaska ganda kuat. Ini korban kurang karena dengan kepadatan penduduk rendah.

Gempa prediksi
Istilah di atas berarti dugaan bahwa gempa berkekuatan tertentu akan mempengaruhi suatu daerah tertentu pada waktu tertentu. Ada beberapa bukti bahwa gempa bumi dapat diprediksi dengan akurasi yang baik waktu dan ruang. Namun, teknik prediksi tidak ditemukan handal dan direproduksi. Jadi, ini tidak diterima oleh seismolog. Orang mencoba untuk menghubungkan kemungkinan gempa dengan bantuan pola kegempaan, medan elektromagnetik, awan tidak teratur, sikap hewan, tingkat air di sumur dan kandungan gas hidrogen air tanah. Sebuah prediksi gempa harus meliputi daerah, besarnya, jendela waktu, secara fisik dan perkiraan probabilitas.

Gempa peta yang menunjukkan jumlah rata-rata gempa bumi per tahun per 12.300 kilometer persegi dari besaran tertentu diambil. Peta diklasifikasikan sebagai per berbagai kedalaman permukaan bumi.

Sumber: http://www.buzzle.com
Terjemahan : http://translate.google.co.id
Baca selengkapnya ..

Fakta Gempa Bumi di Dunia

Gempa bumi yang tercatat terbesar di Amerika Serikat adalah berkekuatan 9.2 yang melanda Prince William Sound, Alaska pada Good Jumat, 28 Maret 1964 UTC.

Gempa bumi yang tercatat terbesar di dunia adalah berkekuatan 9,5 (Mw) di Chili pada 22 Mei 1960.

Gempa bumi dilaporkan paling awal di California dirasakan pada tahun 1769 oleh ekspedisi eksplorasi Gaspar de Portola sedangkan kelompok itu berkemah sekitar 48 kilometer (30 mil) tenggara Los Angeles.

Sebelum elektronik diperbolehkan rekaman gempa bumi besar, ilmuwan dibangun seismometer besar musim semi-pendulum dalam upaya untuk merekam gerak periode panjang yang dihasilkan oleh gempa tersebut. Yang terbesar beratnya sekitar 15 ton. Ada berukuran sedang satu tiga cerita tinggi di Mexico City yang masih beroperasi.

Tingkat rata-rata gerak di San Andreas Fault Zona selama 3 juta tahun lalu adalah 56 mm / tahun (2 di / tahun). Ini adalah tentang tingkat yang sama di mana kuku Anda tumbuh. Dengan asumsi tingkat ini terus berlanjut, ilmuwan proyek yang Los Angeles dan San Francisco akan berdekatan satu sama lain dalam sekitar 15 juta tahun.

Afrika Timur Rift System adalah 50-60 km (31-37 miles) zona luas gunungapi aktif dan patahan yang memanjang utara-selatan di Afrika timur selama lebih dari 3000 km (1864 mil) dari Ethiopia di utara untuk Zambezi di selatan. Ini adalah contoh langka dari zona rift aktif benua, di mana sebuah pelat kontinental mencoba untuk membagi menjadi dua lempeng yang bergerak menjauh dari satu sama lain.

Yang pertama "pendulum seismoscope" untuk mengukur getaran dari tanah selama gempa dikembangkan pada 1751, dan itu tidak sampai 1855 bahwa kesalahan telah diakui sebagai sumber gempa bumi.Moonquakes ("gempa bumi" di bulan) memang terjadi, tetapi mereka terjadi lebih sering dan memiliki magnitudo lebih kecil dari gempa bumi di Bumi. Tampaknya mereka terkait dengan pasang surut stres yang terkait dengan jarak bervariasi antara Bumi dan Bulan. Mereka juga terjadi pada kedalaman besar, sekitar pertengahan antara permukaan dan pusat bulan.

Meskipun keduanya gelombang laut, tsunami dan gelombang pasang adalah dua phenomenona tidak berhubungan yang berbeda. Gelombang pasang adalah gelombang air dangkal yang disebabkan oleh interaksi gravitasi antara Matahari, Bulan, dan Bumi. Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bawah laut atau tanah longsor (biasanya dipicu oleh gempa) menggusur air laut.

The gempanya gempa bumi adalah lokasi di bawah permukaan bumi di mana pecahnya kesalahan dimulai. Pusat gempa adalah lokasi tepat di atas hiposenter pada permukaan bumi.
Tanah terbesar di dunia adalah Pegunungan Himalaya-Karakoram. Ini berisi 96 dari 109 puncak dunia lebih dari 7.317 m (24.000 ft). Rentang terpanjang adalah pegunungan Andes Amerika Selatan yang 7.564 km (4.700 mil) panjangnya. Kedua diciptakan pergerakan lempeng tektonik bythe.

Hal ini diperkirakan terdapat 500.000 gempa bumi terdeteksi di dunia setiap tahun. 100.000 tersebut bisa dirasakan, dan 100 di antaranya menyebabkan kerusakan.

Diperkirakan bahwa lebih banyak kerusakan dilakukan oleh api yang dihasilkan setelah gempa bumi San Francisco 1906 daripada akibat gempa itu sendiri.
Sebuah seiche (SAYSH diucapkan) adalah apa yang terjadi di kolam renang dari California selama dan setelah gempa bumi. Ini adalah "sebuah gelombang osilasi internal dalam tubuh air" atau, dengan kata lain, itu adalah tumpah air di kolam renang Anda, atau badan air, tanah yang disebabkan oleh gempa bumi bergetar. Ini mungkin berlangsung beberapa saat atau jam, lama setelah gaya pembangkit hilang. seiche A juga bisa disebabkan oleh angin atau pasang surut.
Setiap tahun wilayah California selatan memiliki sekitar 10.000 gempa bumi. Kebanyakan dari mereka adalah sangat kecil bahwa mereka tidak merasa. Hanya beberapa ratus yang lebih besar dari magnitudo 3,0, dan hanya sekitar 15-20 yang lebih besar dari magnitudo 4,0. Jika ada gempa besar, bagaimanapun, urutan gempa susulan akan menghasilkan banyak gempa bumi lebih dari semua besaran selama berbulan-bulan.
Besarnya gempa bumi adalah nilai diukur dari ukuran gempa. besarnya adalah sama di mana pun Anda berada, atau seberapa kuat atau lemah yang gemetar di berbagai lokasi. Intensitas gempa adalah ukuran dari goncangan yang diciptakan oleh gempa, dan nilai ini tidak berbeda dengan lokasi.
Kisaran Wasatch, dengan area ski yang luar biasa, berjalan Utara-Selatan melalui Utah, dan seperti gunung semua kisaran itu dihasilkan oleh serangkaian gempa bumi. 386 km (240 mil)-panjang Wasatch Fault terdiri dari beberapa segmen, masing-masing mampu memproduksi sampai gempa M7.5. Selama 6.000 tahun terakhir, telah terjadi M6.5 + sekitar sekali setiap 350 tahun, dan sudah sekitar 350 tahun sejak gempa kuat terakhir, yang pada segmen Nefi.
Tidak ada hal seperti "cuaca gempa". Secara statistik, ada pemerataan gempa bumi dalam cuaca dingin, cuaca panas, cuaca hujan, dll Selain itu, tidak ada cara fisik yang cuaca bisa mempengaruhi kekuatan beberapa mil di bawah permukaan bumi. Perubahan tekanan udara di atmosfer sangat kecil dibandingkan dengan kekuatan di kerak bumi, dan efek dari tekanan udara tidak mencapai di bawah tanah.
Dari 1975-1995 hanya ada empat negara yang tidak memiliki gempa bumi. Mereka adalah: Florida, Iowa, North Dakota, dan Wisconsin.
Inti bumi adalah elemen struktur pertama internal diidentifikasi. Pada 1906 RD Oldham menemukannya dari penelitiannya terhadap gempa. Inti bagian dalam solid, dan inti luar cair dan begitu juga tidak mengirimkan energi gelombang geser dilepaskan selama gempa bumi.
Kolam renang di University of Arizona di Tucson kehilangan air dari tumpah (seiche) yang disebabkan oleh M8.1 1985 Michoacan, Mexico gempa 2000 km (1.240 mil).
Gempa bumi terjadi di bagian tengah Amerika Serikat juga! Beberapa gempa bumi sangat kuat terjadi di sepanjang sesar Madrid Baru di Lembah Mississippi pada 1811-1812. Karena struktur kerak di Amerika Tengah yang efisien energi seismik merambat, gemetar dari gempa bumi di bagian negara tersebut dirasakan pada jarak yang jauh lebih besar dari epicenters dari gempa ukuran hampir sama di Amerika Serikat Barat.
Kebanyakan gempa bumi terjadi pada kedalaman kurang dari 80 km (50 mil) dari permukaan bumi.
Kesalahan San Andreas TIDAK kesalahan, tunggal terus menerus, melainkan sebenarnya adalah zona sesar terdiri dari banyak segmen. Gerakan mungkin terjadi di sepanjang salah satu dari banyak segmen sesar sepanjang zona setiap saat. Sistem sesar San Andreas lebih yang 1300 km (800 mil), dan di beberapa tempat adalah sebanyak 16 km (10 mil) dalam.
Gempa paling mematikan di dunia yang tercatat terjadi pada tahun 1556 di Cina tengah. Ini melanda daerah dimana kebanyakan orang tinggal di gua-gua diukir dari batuan lunak. Rumah ini runtuh saat gempa, membunuh seorang 830.000 orang diperkirakan. Pada tahun 1976 gempa mematikan lainnya melanda di Tangshan, Cina, di mana lebih dari 250.000 orang tewas.
Florida dan North Dakota memiliki jumlah terkecil gempa bumi di Amerika Serikat.
Gempa bumi terdalam biasanya terjadi di batas lempeng mana Bumi "kerak sedang subduksi ke dalam mantel bumi. Ini terjadi sebagai sedalam 750 km (400 mil) di bawah permukaan.
Alaska adalah negara yang paling rawan gempa dan salah satu daerah seismik paling aktif di dunia. Alaska mengalami gempa bumi berkekuatan 7 hampir setiap tahun, dan besarnya 8 atau lebih besar gempa rata-rata setiap 14 tahun.
Sebagian besar gempa bumi dan letusan gunung berapi terjadi di sepanjang batas lempeng seperti batas antara Lempeng Pasifik dan Amerika Utara piring. Salah satu batas lempeng yang paling aktif di mana gempa bumi dan letusan sering terjadi, misalnya, adalah sekitar Lempeng Pasifik besar sering disebut sebagai Cincin Api Pasifik.
Bukti paling awal tercatat gempa bumi telah dilacak kembali ke 1831 SM di provinsi Shandong Cina, tetapi ada catatan yang cukup lengkap mulai tahun 780 SM selama Dinasti Zhou di Cina.
Hal ini diakui sejak 350 SM oleh Aristoteles ilmuwan Yunani yang tanah lunak getar lebih dari hard rock dalam gempa bumi.
Penyebab gempa dinyatakan benar tahun 1760 oleh insinyur Inggris John Michell, salah seorang bapak pertama seismologi, dalam memoar mana ia menulis bahwa gempa bumi dan gelombang energi yang mereka buat disebabkan oleh "massa pergeseran mil di bawah batuan permukaan ".
Pada 1663 pemukim Eropa mengalami gempa pertama mereka di Amerika.
Manusia dapat mendeteksi suara dalam rentang frekuensi 20-20,000 Hz. Jika gelombang P dibiaskan keluar dari permukaan batu ke udara, dan memiliki frekuensi dalam kisaran terdengar, maka akan terdengar sebagai gemuruh. Sebagian besar gelombang gempa memiliki frekuensi kurang dari 20 Hz, sehingga gelombang itu sendiri biasanya tidak didengar. Sebagian besar suara gemuruh terdengar saat terjadi gempa bumi adalah bangunan dan isinya bergerak.
Ketika terjadi gempa Chili pada tahun 1960, seismograf mencatat gelombang seismik yang melakukan perjalanan di seluruh bumi. Gelombang seismik ini mengguncang seluruh bumi untuk beberapa hari! Fenomena ini disebut osilasi bebas dari Bumi.
Interior Antartika telah icequakes yang, meskipun mereka jauh lebih kecil, yang mungkin lebih sering dari gempa bumi di Antartika. Para icequakes mirip dengan gempa bumi, tetapi terjadi dalam lapisan es itu sendiri, bukan dari tanah di bawah es. Beberapa pengamat kutub kami telah memberitahu kami bahwa mereka dapat mendengar icequakes dan melihat mereka di stasiun seismograph Kutub Selatan, tetapi mereka terlalu kecil untuk dilihat pada stasiun yang cukup untuk mendapatkan lokasi.

Sumber: http://earthquake.usgs.gov
Terjemahan : http://translate.google.co.id
Baca selengkapnya ..

18 March 2011

REFERENSI FENOMENA SUPERMOON


NASA Scientist Explains Science Behind 'Supermoon' Phenomenon

The tragic earthquake and tsunami in Japan Friday (March 11) set the Internet abuzz with the idea that the moon, which will be at its fullest of the year on March 19, played a role in the devastating natural disaster.

The seed for the idea was planted by an astrologer, who contended that this large full moon – a so-called "supermoon"– would touch off natural disasters like the Japan earthquake since the moon would make its closest approach to Earth in 18 years. Scientists, however, dismissed the notion entirely and now a top NASA scientist is weighing in.

In a statement released Friday, noted NASA scientist Jim Garvin explains the mechanics behind the moon's phases and the causes of the supermoon. Garvin is the chief scientist at NASA's Goddard Space Flight Center in Greenbelt, Md.< class="fullpost">

"'Supermoon' is a situation when the moon is slightly closer to Earth in its orbit than on average, and this effect is most noticeable when it occurs at the same time as a full moon," Garvin wrote in the NASA statement. "So, the moon may seem bigger although the difference in its distance from Earth is only a few percent at such times."

The full moon of March will occur next Saturday on March 19, when the moon will be about 221,567 miles (356,577 kilometers) away from Earth. The average distance between the Earth and the moon is about 238.000 miles (382.900 km).

"It is called a supermoon because this is a very noticeable alignment that at first glance would seem to have an effect," Garvin explained. "The 'super' in supermoon is really just the appearance of being closer, but unless we were measuring the Earth-Moon distance by laser rangefinders (as we do to track the LRO [Lunar Reconnaissance Orbiter] spacecraft in low lunar orbit and to watch the Earth-Moon distance over years), there is really no difference."

It was astrologer Richard Nolle who linked the full moon of March 19 to natural disasters. He claimed that this "supermoon" would trigger massive earthquakes, volcanoes and powerful storms when it arrived. But scientists assure that this is not the case.

Garvin, for example, said the moon's effects on Earth have been the subject of extensive studies.

"The effects on Earth from a supermoon are minor, and according to the most detailed studies by terrestrial seismologists and volcanologists, the combination of the moon being at its closest to Earth in its orbit, and being in its 'full moon' configuration (relative to the Earth and sun), should not affect the internal energy balance of the Earth since there are lunar tides every day," Garvin wrote.

But while the moon helps drive Earth's tides, it is not capable of triggering devastating earthquakes.

"The Earth has stored a tremendous amount of internal energy within its thin outer shell or crust, and the small differences in the tidal forces exerted by the moon (and sun) are not enough to fundamentally overcome the much larger forces within the planet due to convection (and other aspects of the internal energy balance that drives plate tectonics)," Garvin explained.


The 'Supermoon' Did Not Cause the Japanese Earthquake and Tsunami

The devastating earthquake and tsunami that struck Japan early today (March 11) were "completely unrelated" to the approaching "supermoon," despite a news report that tied the earthquake to the upcoming lunar event, according to U.S. Geological Survey geophysicist John Bellini.

The supermoon will occur on March 19, when the moon is at or near its point of closest orbit — lunar perigee — and is also full. As we explained in our previous coverage of the upcoming supermoon, seismologists have found no evidence to believe that lunar perigees heighten seismic activity.

The best evidence that this earthquake was not caused by a supermoon is that it happened now — exactly a week away from the date the moon will be full, and almost a week after it was new, the two times that the moon exerts its greatest pull on the planet.

A very small correlation exists between full or new moons and seismic activity, because the stronger-than-usual tidal forces caused by the alignment of the sun and moon puts added stress on tectonic plates. [Photos: Our Changing Moon]

But this quake happened with the sun and moon askew — the time when tidal forces are weakest. Putting aside the fact that the moon doesn't trigger massive earthquakes, blaming this quake on the supermoon is like trying to pin a house fire on an arsonist who is out of town at the time of the crime.

The Japanese earthquake thus points to the fact that astrology — an astrologer was the first to suggest the supermoon could be a threat — isn't a science. That this earthquake occurred a week before an astronomical event is mere coincidence. The vast majority of earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions and natural disasters do not follow the lunar cycle or tides. "This is something that builds up over hundreds of years," Bellini told Life's Little Mysteries.

source: space.com


No 'Supermoon'-earthquake connection: Scientists

The phrase 'Supermoon' is believed to have been coined by an astrologer, Richard Nolle, on his website, and spread to astronomers online. -- PHOTO: AP

THE mega earthquake that hit Japan on Friday had no connection to the 'Supermoon', scientists said, referring to an event on March 19 when the moon will be at its closest to Earth in 18 years.

Dr Paul Walker, a senior meteorologist for AccuWeather Inc, told ABC News that 'there is no connection between the moon's position' and the 8.9-magnitude earthquake, which is feared to have killed over 1,000 people. 'I don't think you can attribute it to being a full moon... These moon events can cause the tides to run higher than normal, but I've not heard of any correlation between them and extreme weather events,' Dr Walker added.

The phrase 'Supermoon' is believed to have been coined by an astrologer, Richard Nolle, on his website, and spread to astronomers online.

Mr Nolle had written that the last 'Supermoon' this year was just before the earthquake that hit Christchurch, New Zealand, in February. Other disasters occurring near a 'Supermoon' included Hurricane Katrina and the 8.8 Chile earthquake, Mr Nolle said in his post.

However, Nasa astronomer Dave Williams agreed with Dr Walker's view that the moon had no connection to the Japan quake, ABC News reported.

In an e-mail to ABCNews.com, Mr Williams said that at the time of the earthquake in Japan, the moon was actually closer to its furthest point in orbit from Earth than it was to its closest point (on March 19), 'so the gravitational effect of the moon was, in fact, less than average at that time'.

SOURCE: www.straitstimes.com


Did a supermoon cause the March 11 earthquake in Japan?

The moon’s farthest point from Earth for this month – was March 6. Perigee – the moon’s closest point to Earth for this month – will be March 19. On March 11, the moon was about halfway between its closest and farthest point to Earth.

So, on March 11, neither condition for a supermoon existed. The moon was not particularly close to Earth, and the Earth, sun and moon were not aligned. In fact – both in the sense of its distance from Earth, and also in the sense of an Earth/moon/sun alignment – the moon was far from the condition of “supermoon.” And yet there was this massive earthquake. What is the connection?

One more thing. My colleague at EarthSky – Bruce McClure, who writes most of our Tonight pages – passed along this link. You can see from the chart of perigee full moons on this page that these sorts of full moons – full moons coinciding with the moon’s closest point to Earth – happen about every 1 year 1 month and 18 days. You can also see from the chart that full moon distances do vary, but the variation in lunar distance is small in contrast to the moon’s overall distance.

For example, the last perigee full moon – on January 30, 2010 – was only 30 kilometers (20 miles) farther than the March 19, 2011 full moon will be. That’s in contrast to the moon’s mean distance of 384,400 kilometers (about 239,000 miles – or nearly a quarter million miles).

Supermoon conditions were not in effect during the March 11 8.9-magnitude earthquake in Japan. If a connection between supermoons and earthquakes exists, it should be easy to spot and track over time. Scientists will notice it and incorporate it into their efforts to predict earthquakes and save lives. Until then, the idea of a supermoon has not been supported by science.

Get your FREE account with AlertPay

Source: earthsky.org
Baca selengkapnya ..

13 March 2011

Video Rekaman Gempa dan Tsunami Jepang 2011













 
Baca selengkapnya ..

Daftar Gempa Terdahsyat dalam Sejarah Dunia hingga 2011



Gempa bumi dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter (SR) yang mengguncang gempa Jepang pada Jumat (11/3/2011) sore waktu Jepang adalah gempa terbesar yang pernah terjadi di negeri itu. Sementara untuk skala dunia, gempa itu adalah yang terbesar ke-7 dalam sejarah.

Berikut ini adalah gempa bumi terbesar dalam sejarah menurut website layanan survei geologi Amerika Serikat.

-9,5 SR terjadi di Cile pada 5 Mei 1960 di pantai selatan Cile menewaskan 1.600 orang dan 2 juta orang kehilangan rumah.

-9,2 SR terjadi di Alaska, AS pada 27 Maret 1964 menewaskan 128 orang dan kota terbesar di negara bagian itu, Kota Anchorage rusak parah.

-9,1 SR terjadi di Aceh, Indonesia pada 26 Desember 2004 menewaskan 220.000 orang dan merusak kawasan pantai negara-negara di Samudra India.

-9,0 SR terjadi di Rusia pada 4 November 1952 di wilayah pantai Semenanjung Kamchatka di timur jauh Rusia. Gempa itu menimbulkan gelombang tsunami di Pasifik.

-9,0 SR terjadi di Peru pada 13 Augustus 1868. Pelabuhan Arica yang kini menjadi bagian dari Cile dihantam gempa tersebut.

-9,0 SR terjadi di Amerika Utara pada 26 Januari 1700 merusak garis pantai sepanjang 1.000 kilometer akibat tsunami yang terjadi di Samudra Pasifik dan merusak desa-desa pinggir pantai di Jepang.

-8,9 SR terjadi di Jepang pada 11 Maret 2011. Gempa tektonik di timur laut Jepang ini menimbulkan tsunami setinggi 10 meter yang merusak apa saja yang dilaluinya.

-8,8 SR terjadi di pantai Cile pada 27 Februari 2010 yang menimbulkan tsunami hingga menewaskan lebih dari 500 orang, sebagian besar yang tinggal di wilayah pantai Maule yang terletak 400 kilometer barat laut ibu kota Santiago.

-8,8 SR terjadi di Ekuador pada 31 Januari 1906 menghantam dan merusak wilayah pantai Ekuador dan Kolombia dan getarannya terasa sampai di San Francisco, AS.

-8,7 SR terjadi di Alaska pada 4 Februari 1965 dan merusak daerah Kepulauan Rat serta menimbulkan tsunami setinggi 10 meter.

-8,7 SR terjadi di Portugal pada 1 November 1755. Ibu kota Lisabon diguncang gempa saat banyak orang sedang berada di gereja. Seperempat dari penduduk kota itu tewas.

-8,7 SR terjadi di Cile pada 8 Juli 1730. Gempa itu menghantam Kota Valparaiso, 120 kilometer barat laut ibu kota Santiago. Gempa itu menimbulkan tsunami yang menghantam garis pantai sepanjang lebih dari 1.000 kilometer. [AFP/A-21]
Baca selengkapnya ..

Gempa Jepang 8,9 SR dan Fenomena Supermoon



Gempa dahsyat di Jepang terjadi setelah muncul spekulasi tentang efek dari fenomena Supermoon. Supermoon adalah fenomena bulan terlihat sangat besar di langit karena berada dalam posisi terdekatnya dengan bumi selama 18 tahun terakhir.

Sehari sebelum gempa Jepang terjadi, ada sebagian orang yang mencoba mengaitkan fenomena Supermoon dengan kemungkinan adanya 'kekacauan di bumi'. Teori konspirasi yang beredar di internet menyebutkan Supermoon bisa memicu kemunculan gelombang tinggi, gempa bumi, dan gunung meletus.

Seperti yang diberitakan thesun.co.uk, Sabtu (12/3/2011), pada tanggal 19 Maret bulan hanya berjarak 221.567 mil dari bumi dan peneliti amatir sudah memprediksikan munculnya kondisi ekstrim di bumi.

Blogger Daniel Vogler dalam tulisannya di AccuWeather mengungkapkan fakta kalau terakhir kali fenomena Supermoon muncul pada 10 Januari 2005, hampir 2 minggu setelah gempa dahsyat 9.0 SR yang meluluhlantakkan Aceh. "Jadi waspadalah, sesuatu yang 'besar' bisa terjadi saat-saat ini," ujar Vogler.



Supermoon terjadi pada tahun 1955, 1974, 1992, dan 2005. Dan pada tahun-tahun itu kondisi cuaca sangat ekstrem.

Sementara itu, ahli lain tidak setuju kalau supermoon ada kaitannya dengan gempa Jepang. Prakirawan cuaca John Kettley mengatakan bulan tidak bisa menyebabkan aktivitas geologi, tetapi cuma gelombang tinggi.




"Jika gelombang tinggi dibarengi dengan cuaca buruk, paling-paling efeknya hanya terasa di daerah pesisir," terang Kettley.

Pengelola Pusat Internasional untuk Radio Astronomy, Pete Wheeler, menjelaskan tidak akan ada gempa atau gunung meletus jika memang sudah waktunya.

"Bumi hanya akan mengalami gelombang tinggi saat itu (Supermoon-red) terjadi," jelasnya.(gah/lh)

sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/03/12/140449/1590303/10/gempa-jepang-89-sr-dan-fenomena-supermoon
Baca selengkapnya ..

Gempa Jepang, Akibat Kedekatan Bumi-Bulan?



Situs astronomi Space.COM beberapa waktu lalu memberitakan bahwa bulan sedang bergerak pada posisi terdekat dengan bumi. Posisi terdekat akan dicapai pada tanggal 19 Maret 2011 nanti, membawa bulan hanya pada jarak 221.567 mil, terdekat selama 18 tahun terakhir. Ketika Bulan sedang ada pada posisi terdekatnya, maka fenomena ini sering disebut "supermoon".

Para ahli mengatakan, akibat dari "supermoon" adalah meningkatnya gelombang pasang air laut beserta meningkatnya aktivitas seismik di Bumi yang bisa berakibat pada meningkatnya potensi gempa bumi dan erupsi gunung berapi. Pada saat yang hampir bersamaan atau 8 hari sebelum puncak kedekatan Bumi dengan Bulan (perigee), Jepang diguncang oleh gempa berkekuatan 8,9 skala magnitude dan menyebabkan tsunami yang hingga kini menewaskan 1000 korban jiwa.

Sebagaimana diketahui, gempa diakibatkan oleh aktivitas tektonik Bumi. Berangkat dari kebetulan tersebut, beberapa pihak berspekulasi bahwa gempa di Jepang disebabkan oleh Bulan yang hendak menuju titik terdekatnya dengan Bumi.

Blogger Mark Paquette misalnya, memulai spekulasinya dengan mengatakan bahwa beberapa peristiwa gempa dahsyat memang terkait dengan kedekatan Bumi-Bulan. Ia mencontohkan gempa yang mengakibatkan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Gempa tersebut terjadi 14 hari sebelum perigee Bumi-Bulan yang terjadi pada 10 Januari 2005.

Ia menuliskan, "Jadi, apa yang bisa kita lihat sekarang? Gempa bumi? Erupsi gunung berapi? Sepertinya kita cuma bisa menunggu dan melihat nanti." Komentar tersebut memang menakutkan. Bagaimana tidak, belum terjadi perigee saja bisa berakibat pada gempa terdahsyat sepanjang sejarah Jepang sejak 1891.

Menanggapi spekulasi itu, meteorolog senior di AccuWeather Paul Walker mengatakan, spekulasi bahwa gempa Jepang disebabkan oleh perigee Bumi-Bulan sepertinya tidak benar. "Saya kira Anda tidak bisa menghubungkannya dengan 'supermoon' yang masih 8 hari lagi terjadi. 'Supermoon' memang bisa berakibat pada gelombang pasang yang luar biasa, tapi tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan peristiwa alam yang ekstrim semacam ini," jelasnya seperti dikutip MSNBC.

Astronom NASA David William juga mengatakan bahwa "supermoon" bukan penyebab gempa. "Supermoon itu hanya bulan yang besar dan sangat bercahaya. Tak ada yang spesial dengan itu," paparnya.

John Vidale, seismolog University of Washington dan direktur Pasific Northwest Seismic Network serta Wiliam Wilcock yang juga dari University of Washington pun mengatakan hal serupa. Mantan ilmuwan NASA Phil Plait mengatakan dengan tegas, "Apapun yang orang katakan, yang jelas tak ada kemungkinan gempa ini disebabkan oleh Bulan."

Perigee memang bisa menyebabkan peningkatan aktivitas tektonik, namun ia mengatakan bahwa hingga saat ini Bulan belum berada pada titik terdekat itu. Pergerakan Bulan bisa membawanya menuju titik terdekat dan terjauh dengan Bumi. Titik terdekat disebut perigee sedangkan titik terjauh disebut apogee.

Saat perigee, efek gravitasi Bulan terhadap Bumi meningkat. Efek yang paling bisa dilihat adalah gelombang pasang, sebab air adalah salah satu elemen bumi yang paling mudah dipengaruhi gravitasi.

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2011/03/12/16334364/Gempa.Jepang.Akibat.Kedekatan.Bumi-Bulan.
Baca selengkapnya ..

25 November 2010

BMKG Bantah Isu Sumbar akan Diguncang Gempa 11 SR saat Purnama

Selain dua pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) DR. Danny Hilman dan Prof. Kerry Sieh, BMKG juga turut menjawab keresahan masyarakat Sumatera Barat yang saat ini banyak terpancing isu akan terjadi gempa dan tsunami pada 25 November 2010.

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Suhardjono mengatakan, telah beredar isu melalui SMS yang menyatakan bahwa akan terjadi gempabumi yang melanda wilayah Sumatera Barat tanggal 25 November 2010, bertepatan saat bulan purnama dengan magnitude 11 SR dengan durasi 5 menit.

"BMKG menyatakan bahwa isu tersebut tidak benar dan menyesatkan, karena gempabumi sampai saat ini belum bisa diprediksi kapan akan terjadi," kata Suhardjono.

Untuk itu, dia mengimbau masyarakat agar tidak menanggapi isu-isu semacam itu, dan diminta waspada serta melaporkan kepada instansi yang terkait.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebagian masyarakat di sejumlah daerah seperti Pesisir Selatan, Pariaman, dan Padang menerima SMS berbunyi seperti : "Ini sekedar info penting dari teman-teman di pemda dan Rumah sakit M Jamil, terkait sosialisasi tim ahli gempa jepang kemarin. Surat rapat tanggap darurat pemda, BNPB dan instansi terkait, dari hasil penelitian pakar gempa Jepang di dasar laut Mentawai sebagai berikut: tepatnya di lokasi Megatrush, ternyata sangat labil untuk patah dalam waktu dekat ini."

"Selanjutnya KOTA PADANG sudah menetapkan status Siaga dari H-3+H3 dari tanggal 25 November, karena tanggal 25 tersebut bertepatan degan bulan purnama/ gravitasi bumi terhadap sejajar dengan planet venus. Di perkirakan gempa itu akan sangat kuat sekali 9 - 11 SR dan 5 menit setelah itu langsung di ikuti tsunami.

Agar tidak semakin meresahkan masyarakat, Gubernur telah pula berkoordinasi dengan Kapolda Sumbar untuk menelusuri dan menangkap penyebar isu via SMS itu.(*)
Baca selengkapnya ..

Pakar Gempa Jawab Keresahan Warga Sumbar

Pakar Gempa dan Tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Earth Observatory of Singapore (EOS) DR. Danny Hilman dan Prof. Kerry Sieh, menjawab keresahan masyarakat Sumatera Barat yang saat ini banyak terpancing isu akan terjadi gempa dan tsunami pada 25 November 2010.

Isu itu disebarkan oleh orang tidak dikenal via SMS ke telepon seluler masyarakat. Akibatnya, sebagian masyarakat yang tinggal dekat pesisir pantai resah dan memilih eksodus, seperti di Kota Padang, Pesisir Selatan dan Pariaman.

Agar warga tidak bingung dalam memperoleh informasi yang benar soal gempa dan tsunami Danny Hilman dan Kerry Sieh pun turun tangan memberikan penjelasan.

Dalam keterangannya yang dikirimkan ke Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI) dan diterima Padang Today, Danny dan Kerry mengatakan, penelitian ilmiah tidak atau belum memungkinkan kita untuk memprediksi akan terjadinya gempabumi di Sumatra pada hari, bulan dan tahun tertentu.

"Apabila mendengar ada ramalan atau prediksi tentang akan terjadinya gempabumi pada waktu tertentu, hal tersebut adalah tidak benar, dan pasti tidak berasal dari ahli yang berkompeten," tandas Kerry Sieh.

Penelitian mereka, kata Kerry, menunjukkan bahwa gempabumi dan tsunami mungkin akan terjadi suatu saat dalam kurun waktu beberapa dekade ke depan di wilayah antara kepulauan Batu dan Pagai serta sepanjang pesisir pantai Sumatera Barat yang berada di dekatnya.

"Namun demikian, kita tidak dapat menentukan kapan waktu tepatnya di beberapa dekade ke depan tersebut gempa akan terjadi," ingat peneliti yang belum lama ini bersama peneliti LIPI dan EOS lainnya, difasilitasi Staf Khusus Kepresidenan bidang Bencana melakukan penelitian pascatsunami di Mentawai.

Artinya, kata Kerry, generasi muda yang ada saat ini di wilayah tersebut berkemungkinan besar untuk mengalami gempabumi tersebut di masa kehidupannya. Jadi, banyak tindakan yang dapat dilakukan saat ini hingga mendatang untuk mengurangi kerugian jiwa, dan harta benda.

Direktur Eksekutif KOGAMI Patra Rina Dewi usai menerima email dari Kerry dan Danny mengatakan, lima tahun lalu, tepatnya 25 Juni 2005, kedua peneliti tersebut datang secara sukarela ke Kota Padang.

Mereka datang untuk memaparkan hasil penelitiannya kepada para pimpinan di Pemprov Sumbar tentang tantangan gempa dan tsunami yang ada di Sumatera Barat. "Sayang sekali, pada saat itu tidak terlalu mendapatkan perhatian yang serius dari Pemerintah," katanya.

Diharapkannya, pernyataan Kerry dan Danny ini, bisa meningkatkan pengetahuan masyarakat agar tidak mudah percaya dengan isu yang tak bisa dipertanggungjawabkan kejelesannya. Di samping itu, terus menggiatkan upaya kesiapsiagaan di tingkat keluarga, begitu juga untuk pemerintah di tingkat kota dan kabupaten.

"Rahasia alam adalah milik Allah semata, tugas kita adalah melakukan ikhtiar yang sempurna sebagai wujud ketawakalan kepada Sang Khalik," ingat Patra.(http://padang-today.com/index.php?today=news&id=23282)
Baca selengkapnya ..

Gubernur: Waspada Gempa dan Tsunami, Tapi jangan Eksodus

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyatakan isu akan adanya gempa yang beredar lewat SMS berantai, sangat meresahkan warga. Kondisi tersebut membuat warga di sejumlah daerah eksodus, terutama yang tinggal di pesisir pantai.

"SMS itu hanyalah isu atau rumor yang tidak jelas ujung pangkalnya. Jangan dipercaya. Eksodus bukan hal tepat yang dilakukan saat ini," ungkap Gubernur di sela kata sambutannya pada sebuah seminar di Pangeran Beach Hotel, Rabu (24/11/2010).

Dia menyayangkan sebagian masyarakat pesisir pantai yang memilih mengungsi atau eksodus setelah membaca SMS meresahkan tersebut. "Padahal SMS tersebut hanya isu atau rumor dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," tegasnya lagi.

Irwan mengatakan hasil penelitian para ahli, terkait gempa dan tsunami di pantai Barat Sumatera tidak dapat dipungkiri. Namun, sejauh ini belum ada ahli maupun teknologi yang bisa menentukan kapan waktunya gempa dan tsunami akan terjadi.

"Hasil penelitian tersebut memang tidak bisa kita abaikan. Namun bukan dengan cara eksodus, tapi cukup dengan kewaspadaan. Jadi, masyarakat tetap sajalah beraktivitas seperti biasa," ujarnya.

Sedangkan pemerintah, di sisi lain, katanya mempersiapkan segala sesuatu sebagai upaya peringatan dini dan antisipasi jika sewaktu-waktu gempa dan tsunami benar-benar terjadi, seperti menyiapkan shelter-shelter dan jalur-jalur evakuasi serta memberikan pendidikan tanggap bencana sebagai upaya mitigasi.

Untuk diketahui sejumlah masyarakat di sejumlah daerah seperti Pesisir Selatan, Pariaman, dan Padang menerima SMS berbunyi seperti : "Ini sekedar info penting dari teman-teman di pemda dan Rumah sakit M Jamil, terkait sosialisasi tim ahli gempa jepang kemarin. Surat rapat tanggap darurat pemda, BNPB dan instansi terkait, dari hasil penelitian pakar gempa Jepang di dasar laut Mentawai sebagai berikut: tepatnya di lokasi Megatrush, ternyata sangat labil untuk patah dalam waktu dekat ini."

"Selanjutnya KOTA PADANG sudah menetapkan status Siaga dari H-3+H3 dari tanggal 25 November, karena tanggal 25 tersebut bertepatan degan bulan purnama/ gravitasi bumi terhadap sejajar dengan planet venus. Di perkirakan gempa itu akan sangat kuat sekali 9 - 11 SR dan 5 menit setelah itu langsung di ikuti tsunami.

Agar tidak semakin meresahkan masyarakat, Gubernur telah pula berkoordinasi dengan Kapolda Sumbar untuk menelusuri dan menangkap penyebar isu via SMS itu.(www.padang-today.com)
Baca selengkapnya ..

Isu Gempa 11 SR di Sumbar Semakin Menggelisahkan

Sosiolog Universitas Andalas Damsar, menyayangkan informasi asimetris yang terjadi sejak bergulirnya isu via pesan singkat (SMS) akan terjadinya gempa 11 SR pada 25 November 2010 di Sumbar, beberapa hari terakhir. Hal itu akhirnya menyebabkan warga mencari informasi di "pasar gelap" seperti ota lapau, melalui pesan singkat (SMS) atau medium lainnya.

"Pemerintah seharusnya mengkomunikasikan apa yang dilakukannya kepada publik, terkait penanggulangan bencana. Jangan malah menutup-nutupinya dengan dalih rapat tertutup untuk konsumsi terbatas," terang Damsar yang kini dipercaya jadi Ketua Kopertis Wilayah X, Rabu (24/11/2010).

Saat menjadi narasumber di acara sosialisasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang kebijakan perencanaan penanggulangan bencana, Damsar bertutur tentang pengalamannya menerima informasi tentang potensi gempa dari istrinya, yang bertugas di RS M Djamil, Padang.

"Istri saya bilang, Dirut telah mengumpulkan seluruh staf M Djamil, sebelum lebaran Idul Adha lalu. Dalam rapat itu, Dirut meminta seluruh tenaga medis mendaftarkan nomor handphone seluruh karyawan sehingga setiap waktu bisa dihubungi. Dalam rapat itu juga diterangkan tentang dampak gempa yang akan melanda Padang, yang membuat bulu saya merinding" terang Damsar dengan suara serak. Air matanya berlinang. Dia kemudian enggan melanjutkan keterangannya.

Hospital Disaster Plan
Terpisah, Humas dan Pengaduan Masyarakat RS M Djamil Padang, Gustafinof membenarkan cerita Damsar ini. Namun, tegasnya, pengumpulan staf itu dalam rangka sosialisasi tentang Hospital Disaster Plan (Rencana aksi rumah sakit terkait kebencanaan). Bukan tentang gempa yang akan segera terjadi.

"RS M Djamil merupakan rumah sakit ke-2 di Indonesia setelah RS Sanglah (Bali), yang memiliki Hospital Disaster Plan. Rencana aksi ini merupakan hal biasa, karena kita belajar dari pengalaman gempa 2009 yang penanganan korban gempa, tak terkoordinasi dengan baik. Berbagai rumah sakit di dunia juga melakukan hal serupa," terangnya.

Dalam rencana aksi itu, terangnya, rumah sakit memang melakukan mapping bencana dengan berbagai kondisi terburuk. "Dalam rancana aksi itu, kita bahkan merencanakan hingga detail beberapa hal mulai dari pasokan listrik, air dan beberapa hal lainnya yang tak terkait dengan dunia medis. Bahkan, dalam rencana aksi itu, kita menyiagakan para medis untuk 365 hari kerja dengan beberapa shift kerja," tegasnya sembari berharap, warga tak resah dan selalu mencari informasi dari narasumber yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Penelusuran Posmetro (Group PadangToday), bergulirnya informasi asimetris ini di tengah masyarakat berawal, setelah rapat tertutup antara gubernur dan beberapa orang kepala daerah di Sumbar bersama Menkokesra, Mensos, Menteri PU dan Menteri Kehutanan di ruang VIP Bandara Internasional Minangkabau dan gubernuran, 15-16 November lalu. Rapat ini juga menghadirkan pimpinan SKPD di pemprov Sumbar.

Dalam salah satu sesi di rapat itu, Direktur Pesisir dan Kelautan Kementrian Kelautan dan Perikanan, Subandono Diposaptono menuturkan hasil penelitiannya tentang potensi gempa di perairan Kepulauan Mentawai. Esoknya, pimpinan SKPD yang hadir di rapat itu, mengumpulkan pejabat yang ada di unit kerjanya. Pimpinan SKPD itu lalu menyampaikan informasi yang disebutkan Subandono Diposaptono ini, hingga akhirnya menyebar ke masyarakat secara luas.

Adat 'maota,' informasi sejengkal bisa bertambah jadi sedepa, kemudian menjadi liar karena tersebar dari mulut-kemulut dengan sumber anonim (tak jelas-red). Menurut Damsar, dengan berseliwerannya informasi tentang gempa ke tengah masyarakat, tak tertutup kemungkinan, informasi dari mulut ke mulut ini disertai dengan berbagai 'bumbu' yang mungkin saja ada kandungan ilmiahnya.

"Dengan perantaraan teknologi, informasi ini tersebar melalui SMS ataupun milis. Hal ini tak akan terjadi jika gubernur dan bupati/wali kota menjelaskan secara detail ke warganya, seputar upaya mitigasi yang tengah dilakukan terkait potensi gempa yang ada di kawasan megathurst. Dengan begitu, warga mengetahui apa yang tengah dikerjakan pemerintah, dalam upaya mengurangi dampak yang diperkirakan akan terjadi," tegasnya.

"Pemerintah terlambat melakukan hal itu. Namun, tak ada salahnya menjelaskannya kembali saat ini." tambahnya.

Kepala Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar menegaskan, informasi resmi terkait gempa Mentawai adalah yang bersumber dari Tim 9 yang diketuai staf khusus presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Andi Arief, (POSMETRO, Minggu 7/11/2010). Katanya, tim ini beranggotakan ahli sesuai disiplin ilmunya masing-masing serta ahli dari Nanyang Technologi University (NTU) Singapura. Selain dari mereka itu (Tim 9-red), tegas Andi, perihal kegempaan di kawasan megathrust Mentawai yang diterangkan ahli lainnya, tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. [POSMETRO PADANG]
Baca selengkapnya ..